Cyrus Chat T2017


Papan ketik fisik QWERTY. Itulah alasan utama saya membeli ponsel satu ini. Selain itu kameranya lumayan sudah mendukung autofokus dan ada lampu LED untuk notifikasi. Lampu LED notifikasi ini nampaknya seperti hal kecil nan sepele, namun bagi saya sangat penting karena saya tak perlu selalu menyalakan layar bila hanya ingin memeriksa ada notifikasi baru atau tidak. Jaman ponsel BB masih ngetop dulu sepertinya semua tipe BB dari kelas rendahan sampai yang mahal dilengkapi dengan lampu LED untuk notifikasi. Sementara ponsel android rata-rata hanya kelas yang mahal yang dilengkapi dengan LED notifikasi.
Kembali ke Cyrus Chat, secara spesifikasi teknis tak ada yang luar biasa : prosesor dual core Broadcomm, RAM 512MB, internal 4GB. Papan ketik QWERTY nya cukup enak untuk mengetik. Mungkin tak seenak BB seri Bold tapi dibanding mengetik dengan papan ketik virtual papan ketik fisik tetap lebih mantap! Entahlah mungkin saya orang yang kuno, tapi ada sensasi yang sulit dijelaskan saat menggunakan papan ketik fisik. Mengetik di papan ketik virtual sepintas tak perlu menekan, tak perlu tenaga sama sekali, tapi entah kenapa untuk mengetik panjang justru lebih membuat lelah.
Kamera belakang 5 megapixels lumayan sudah dilengkapi autofokus dan lampu flash. Hasil fotonya standar saja, tapi setidaknya tak memalukan untuk sekedar diunggah ke jejaring sosial. Kamera depannya juga lumayan terang untuk sekedar selfie ataupun ber-webcam-ria.
Performa secara umum juga biasa saja sih. Sejak awal membeli saya memang memfokuskan ponsel ini lebih ke chat dan jejaring sosial ringan saja. Selain itu kebanyakan untuk mengetik naskah artikel dan memainkan beberapa game ringan. Dengan layar hanya 3.5″ dan resolusi 320×480 pixels saja tentunya ponsel ini kurang cocok untuk game-game berat.

Polytron C283 : ponsel 200 ribuan bisa Whatsapp


Ponsel seharga duaratus ribu rupiahan bisa Whatsapp? Ponsel android murah kah? Atau Nokia S40?

Samasekali bukan. Polytron C283 hanyalah sebuah feature phone biasa tanpa OS terbuka layaknya ponsel pintar. Bahkan mobile java application pun tak bisa diinstal di ponsel ini. Lalu bagaimana ponsel ini bisa menyematkan fitur Whatsapp ? Entahlah. Mungkin ponsel ini memiliki sistem atau OS khusus yang tak banyak diketahui awam. Setidaknya fungsi Whatsapp yang menjadi jualan utama ponsel ini bisa berjalan cukup lancar (asal jangan pakai kartu sim indosat seperti saya, yang dijamin lemot) meski dengan fitur berkesan seadanya, asal terhubung saja. Di luar dukungan Whatsapp ponsel ini memiliki sejumlah fitur khas ponsel lokal eks tiongkok seperti analog TV (yang sayangnya penerimaannya tak begitu bagus), music player, kamera, bluetooth, ebook reader, video player yang bisa memainkan file berekstensi flv dan lain sebagainya. Untuk koneksi internet ponsel ini hanya mendukung jaringan GPRS. Sayang sekali karena browser bawaan ponsel ini sebetulnya cukup bagus dalam menampilkan berbagai situs web, namun dengan kecepatan jaringan GPRS  bisa dibayangkan betapa lemotnya untuk membuka satu halaman web yang kompleks.

Oya di antara menu tersemat sebuah icon bertuliskan ‘application’. Saat dibuka ini dimaksudkan sebagai semacam application manager untuk memantau aplikasi yang sedang berjalan. Agak aneh menurut saya karena aplikasi yang bisa berjalan dibackground sepertinya hanya music player dan radio. Apa perlunya membuat satu task manager khusus hanya untuk memantau dua aplikasi yang tak terlalu berguna itu? Entahlah. Sepertinya ponsel ini masih menyimpan banyak misteri yang harus diekplorasi lebih lanjut. Secara tampilan menu dan antarmuka C283 ini sedikit mengingatkan pada Nexian Cappucino dengan menu utama terbagi beberapa halaman yang bisa diganti-ganti efek peralihan antar halamannya. Namun Nexian Cappucino tentu masih jauh di atas ponsel ini karena dia mendukung instalasi aplikasi java, dan memiliki banyak elemen yang mirip dengan android seperti widget di layar standby dan lain-lain, sedangkan C283 ini masih terbilang sangat sederhana. Sejauh ini yang saya ketahui tentang Polytron C283 hanyalah bahwa ponsel ini menggunakan chip Spreadstrum sc6531.

Polytron Rocket Jetz 4.5 R3450


Tutup belakang berwarna kebiruan gelap dengan tekstur lembut yang tak licin saat disentuh. Itu lah alasan utama saya membeli ponsel Polytron Rocket Jetz 4.5 R3450 ini. Tentu saja saya sempat menyimak sekilas spesifikasi teknisnya secara umum : layar dengan diagonal 4,5 inci,processor MTK 6572 dual core 1,3 Ghz, dual camera. Namun selain warna birunya hanya kemampuan kameranya yang membuat saya menentukan pilihan. Hasil kameranya cukup bagus untuk ponsel seharga sejuta rupiah kurang sedikit. Kamera belakang 5 megapixel-nya cukup sigap untuk mengambil gambar dan mudah untuk menentukan fokus yang saya mau, tak seperti ponsel saya sebelumnya Samsung Galaxy Ace 3 yang meski berharga dua kali lipat lebih namun kemampuan kameranya lumayan menjengkelkan. Kameranya juga dilengkapi lampu flash meski cahayanya tak terlalu kuat.

Di luar kamera performa Polytron Rocket Jetz 4.5 R3450 ini biasa saja. Kadang masih terdapat lag saat membuka beberapa aplikasi. Namun saya rasa wajar karena Samsung Galaxy Ace 3 yang jauh lebih mahal pun sering mengalami hang. Yang saya kurang sukai dari ponsel ini adalah terlalu banyaknya aplikasi yang telah terinstal secara bawaan. Beberapa aplikasi memang bisa dihapus dengan mudah dengan prosedur standar, namun beberapa lainnya diinstal ke dalam sistem sehingga tak bisa dihapus tanpa melalui proses root terlebih dahulu. Untungnya seperti kebanyakan ponsel berprosesor jenis MTK, Polytron Rocket Jetz 4.5 R3450 ini sangat mudah untuk diroot dan dipasang CWM recovery. Saya pribadi suka  menggunakan ponsel android berotak MTK yang relatif mudah untuk ‘dioprek’.

Lalu apa ada keluhan lain di luar tentang performa yang standar saja? Oh ya. Polytron sepertinya kurang memperhatikan ketersediaan asesoris untuk ponselnya. Sulit sekali untuk mencari asesoris seperti anti gores dan softcase ataupun hardcase untuk ponsel ini. Vendor lain seperti Evercoss sudah mengatasi kesulitan mencari asesoris ini dengan memberikan bonus berupa leather case atau hardcase untuk beberapa seri ponselnya. Seharusnya Polytron juga melihat aspek yang terlihat sederhana ini namun kadang sangat mengganggu pemakaian sehari-hari. Tak harus diberikan sebagai bonus, dijual di booth polytron pun pasti laku dibeli oleh para pengguna ponselnya.