cross a7s hello kitty edition


Demikian cintanya saya pada ponsel ini, cross a7s edisi hello kitty, saya sampai membelinya hingga 2 kali. Yang pertama hanya saya sempat saya pakai selama 2 bulanan sebelum amblas digondol oleh maling jahanam. Saya sempat beralih ke lenovo a369i namun hanya bertahan sebulan karena performa kamera yang menyedihkan. Lalu saya putuskan untuk kembali meminang cross a7s edisi hello kitty. Lagi-lagi warna pink yang saya pilih dengan gambar hello kitty di bagian belakang ponsel. Sebenarnya apa yang membuat saya cinta mati pada ponsel ini hingga mau membelinya hingga 2 kali?

Yang pertama tentu saja adalah kameranya. Kamera belakangnya ber-resolusi 8MP cukup mengesankan bila dibandingkan dengan harga ponsel ini yang hanya sejutaan. Bukan hanya resolusinya cukup besar, autofokus-nya lumayan bagus, untuk memotret benda-benda kecil dalam waktu dekat cukup bisa menghasilkan foto yang jelas.

Yang kedua adalah layarnya. Dengan diagonal 4.5″ dan resolusi 540x960pixel layar a7s ini cukup nyaman untuk dilihat. 

Yang ketiga adalah dukungan komunitas yang meriah :D Grup facebook yang membahas ponsel a7s ini sangat ramai. Tersedia banyak tips, custom ROM, dan berbagai panduan untuk mengoptimalkan ponsel cross a7s. 

Di luar ketiga hal tersebut di atas secara umum fitur dan kualitas body cross a7s hello kitty saya rasa cukup sesuai dengan harganya. Bila dibandingkan dengan ponsel seharga bermerk ‘kelas internasional’ seperti lenovo atau samsung saya lebih memilih ponsel ini. :D

 

Ukuran layar ponsel dan kenyamanan penggunaan


Perkembangan bentuk ponsel dimulai dari ponsel berpapan ketik numerik lalu beralih ke ponsel berpapan ketik QWERTY lalu masa ponsel dengan layar sentuh menjadi saksi bisu betapa ukuran layar ponsel semakin membesar. Pada masa awal ponsel berlayar warna ukuran layar ponsel 1.5 inci dengan resolusi 128×128 pixel adalah hal yang biasa. Di awal 2014 ini ponsel layar sentuh dengan diagonal di atas 5 inci merajalela. Namun benarkah makin besar layar selalu berbanding lurus dengan kenyamanan penggunaan sehari-hari? Sulit untuk menjawab ya atau tidak karena hal ini memang relatif, tergantung pada preferensi masing-masing orang. Karena itu saya akan mencoba membahas menurut apa yang saya rasakan sendiri. Saya sudah pernah menggunakan ponsel layar sentuh dengan aneka ukuran layar : 3″, 3.2″, 3.5″, 4″, 4.5″, 5″, 7″. Dengan tegas saya akan menyebut bahwa layar berukuran 7″ sangat tidak nyaman untuk digunakan dan dibawa-bawa kemana saja sehari-hari, ya setidaknya bagi saya sih. Mencoba menggunakan sebuah tablet 7″ selama perjalanan naik bus transjakarta menuju ke kantor selama kira-kira satu jam saja sudah sangat melelahkan tangan saya untuk menggunakannya. Untuk membaca artikel panjang atau menonton film memang layar 7″ enak dilihat, namun bila harus sambil memeganginya sih bagi saya lebih condong menyiksa dibanding menyenangkan. Layar 4.5″-5″ masih cukup enak untuk dipegang namun bila harus menggunakan dalam waktu lama akan terasa juga pegalnya. Bagi saya pribadi ukuran yang paling nyaman adalah 3.5″ hingga 4″. Dengan ukuran layar 4″ saya masih bisa mengetik dengan satu tangan dengan setting keyboard virtual dengan susunan QWERTY. Untuk chatting, bersosial media maupun browsing ringan pun masih cukup nyaman dengan layar 4″. Dan yang paling penting tangan tak terlalu pegal meski harus memeganginya dalam waktu lama.

Bagaimana dengan Anda? Berapakah ukuran layar ponsel yang terasa paling nyaman untuk Anda? :)

Smartfren xstream ed782a


Dengan bentuk kotak kaku dan papan ketik numerik khas ponsel jadul non smartphone tak ada yang istimewa pada penampakan luar ponsel yang dilock oleh operator smartfren ini. Mendukung jaringan EVDO rev A dan cukup mudah untuk digunakan sebagai modem. Tinggal colokkan ponsel ini ke PC/laptop via kabel usb dan secara otomatis akan terinstal driver san aplikasi untuk menjalankan ponsel ini sebagai modem. Di luar kemampuan di atas apalagi yang dimiliki ponsel ini? Ada kamera 2mp tapi kualitasnya biasa saja kalau tidak mau dibilang jelek. Ada music player tapi keluaran suara baik didengar via speaker built in maupun via headset. Keluaran suara music player via headset nya benar-benar mengecewakan, selain sama sekali tidak terdengar bass-nya, volume juga sangat pelan.
Oh ya, yang sedikit menghibur dari ponsel ini adalah kemampuannya untuk menjalankan aplikasi java. Yah, walaupun sekarang sudah agak sulit untuk mencari aplikasi java yang bagus dan berguna, tapi setidaknya masih ada aplikasi seperti opera mini atau uc browser yang membuat pengalaman browsing di ponsel ini sedikit agak mendingan. Apalagi wap browser ponsel ini sangat tak nyaman untuk digunakan.

smartfren xstream hotspot em781h


Di banding smartfren xstream yang ‘asli’ yang non hotspot (ed782a), ponsel smartfren xstream hotspot em781h ini bentuknya agak mirip, cenderung kotak kaku. Tipikal ponsel jadul berpapan ketik numerik dengan layar berdiagonal 2.4” yang di masa kini tergolong sangat kecil. Fitur-fiturnya sudah sangat standar di masa kini : kamera 1.3 mp yang berkualitas seadaanya, music player, radio fm, wap browser dan lain-lain. Keunggulan utamanya tentunya adalah kemampuan ponsel ini untuk menjadi wifi hotspot alias membagikan koneksi internetnya yang mendukung jaringan EVDO rev A ke perangkat lain via wifi. Di luar itu saya hanya akan menyoroti beberapa perbedaannya dengan smartfren xstream non hotspot :

-yang pertama adalah smartfren xstream hotspot ini tidak mendukung instalasi aplikasi java ataupun brew. Jadi Anda tidak bisa menambahkan aplikasi seperti misalnya opera mini ke ponsel ini.

-papan ketik numerik xstream hotspot ini lebih empuk dan lebih nyaman digunakan dibanding xstream biasa.

-music player xstream hotspot ini keluaran suaranya (terutama bila didengarkan via headset) jauh lebih berkualitas dibanding xstream biasa.

-wap browser xstream hotspot ini lebih enak digunakan untuk browsing dibanding xstream biasa.

lenovo a369i


Saya sangat menyukai acang terutama ponsel. Mungkin terdengar lebay tapi saya merasa hidup saya hampa tanpa ponsel. Karena itu saya sempat amat sangat terpukul ketika ponsel kesayangan saya, evercoss a7s edisi hellokitty, lenyap dari kamar saya. Tak bisa berlama-lama tanpa ponsel saya pun membeli penggantinya. Dengan terburu-buru saya membeli Lenovo a369i. Pertimbangan saya ketika memilih a369i ini hanyalah karena sudah ber-OS jellybean 4.2.2 dan besaran fisik maupun harganya kira-kira tak jauh beda dari evercoss a7s.

Lenovo a369i ini layarnya 4 inci dengan resolusi 480×800 pixels. Kualitasnya standar saja, masih cukup enak dilihat. Namun sayang sepertinya ada masalah dengan sensor sentuhan layarnya, untuk digunakan mengetik cepat kurang enak karena sering terjadi salah pencet. Mengganti keyboard dengan menginstall keyboard virtual buatan pihak ketiga tak terlalu membantu bila tetap memilih susunan keyboard qwerty. Saya terpaksa memilih keyboard dengan layout numerik seperti pada ponsel-ponsel jadul agar bisa mengetik tanpa banyak membuat kesalahan. Untuk menggambar sketsa dengan aplikasi macam sketchbook mobile juga layar a369i ini kurang enak. Untuk menarik garis kadang terputus atau melenceng dari yang seharusnya.

Dari segi software tampilan UI lenovo di atas jellybean 4.2.2 standar sepertinya makin bagus dibanding lenovo lain yang pernah saya pakai sebelumnya yaitu s880 dan a690. Launcher bawaan lenovo ini bila telah kita update sendiri akan terdapat beberapa tambahan fitur yaitu bisa mengunduh tema-tema lain, bisa menginstal berbagai lockscreen dengan animasi yang lucu dan menarik dan masih ada beberapa tambahan lain yang umumnya bersifat kosmetik. Dengan prosesor MT6572A\W 1.3 GHz Dual Core, ram 512 MB, dan memory internal 4 GB tak ada kendala berarti ketika menjalankan berbagai aplikasi standar. Game-game standar seperti subway surfer dan temple run berjalan mulus tanpa lag. Namun entah kenapa beberapa aplikasi jejaring sosial (yang sudah saya coba Path dan Instagram) tak bisa diinstal melalui playstore, selalu ditulis tidak kompatibel dengan perangkat. Namun kita tetap bisa menginstal aplikasi-aplikasi tersebut dengan mengunduh apk-nya dari sumber-sumber lain dan berjalan mulus.
Lenovo a369i ini sepertinya tak dibenamkan GPS didalamnya. Dia hanya dapat mendeteksi lokasi berdasar jaringan operator. Saya curiga ketiadaan GPS ini yang menyebabkan banyak aplikasi berbasis lokasi dikatakan tidak kompatibel oleh playstore.
Baterai a369i berkapasitas 1500mAh untuk penggunaan saya sehari-hari (network 3g selalu nyala/gantian dengan wifi) rata-rata bertahan sekitar 14 jam-an.
Untuk urusan multimedia lenovo a369i ini memang terkesan seadanya saja. Camera 2 megapixels-nya hasil jepretannya bisa dibilang jelek sekali. Dibanding dengan camera ponsel jadul semisal SE k770 pun kalah jauh. Keluaran suara bila diperdengarkan dengan speaker-nya pun tidak bagus, bila volume disetel agak kencang sedikit suara langsung pecah.
Di luar spesifikasi standar tersebut di atas lenovo a369i cukup mudah untuk di-root menggunakan aplikasi framaroot yang memudahkan untuk mengopreknya lebih lanjut.
Kesimpulan saya tentang lenovo a369i ini sebetulnya pada umumnya cukup memuaskan, sesuai dengan harganya yang sekitar Rp 999.000,00 saat saya beli. Namun jeleknya hasil kamera sedikit mengganggu kepuasan menggunakannya. Mungkin saya agak lebay namun bila dibandingkan dengan evercoss a7s yang harganya hanya sedikit lebih mahal (saya beli Rp 1.085.000,00) kamera lenovo a369i sangat tertinggal jauh sehingga ada sedikit rasa tak puas.