i’m moviiiiiiing! yaaaaay!


I’m moving this blog aito.wordpress.com which discussed about cellphones and stuff into aitody.blogspot.com.
I don’t know why but it seemed kinda getting heavier to open wordpress from my mobilephones, even with the help of the dedicated app. I have had this blogger site for a while but never really used it properly so I’ve decided to give it a try here.

Thank you for your support and attention, dear readers :)

Polytron W7550 lite


Setelah bosan memakai yang mini (tepatnya mata saya makin lama makin terasa pedas memandangi layar mini ber-resolusi rendah) kembali saya beralih ke ponsel berukuran layar 5.5″. Meski resolusi layarnya sekedar qHD alias 540×960 pixels, bagi saya cukup nyaman untuk dipandang berlama-lama. Sensitivitas terhadap sentuhan baik dalam arti cukup peka tanpa berlebihan. Tak ada gejala aneh utamanya saat harus mengetik cepat seperti pada beberapa ponsel murah merk lain.

Ponsel pilihan saya kali ini adalah Polytron W7550 lite dengan warna casing biru gelap yang menurut saya cukup elegan. Material casing juga tak licin dipegang, satu hal yang yang saya rasakan membuat cukup nyaman dalam penggunaan sehari-hari, terutama mengingat dimensinya yang cukup besar.

Ponsel ini diotaki prosesor quadcore dan memiliki RAM 1GB. Spek tipikal untuk ponsel kelas menengah bawah saat ini. Performa sehari-hari lumayan. Untuk sekedar berjejaring sosial dan game ringan macam ‘Little Big City’ tidak ada kendala maupun gejala lag. Tak ada acara force close mendadak yang mengganggu. Free Ram biasanya berkisar 200-300 MB-an pada pemakaian normal. Setelah saya root dan saya instal greenify, buangin apps bawaan, free RAM berkisar 350 MB-an ke atas. Cukup lumayan mengingat sebelum ini saya sempat menggunakan Redmi 1s dan free Ram-nya sering sekali tinggal 150 MB-an atau bahkan di bawah 100 MB. OS kitkat 4.4.2 dengan UI standar nyaris tanpa personalisasi dari pihak Polytron. Hanya pada launcher ada 2 pilihan theme : yang satu dengan icon-icon standar bawaan android, satu lagi dengan icon ala touchwiz-nya Samsung. Tak masalah bagi saya, justru menurut saya yang seperti ini biasanya lebih ringan daripada ponsel dengan tampilan meriah semacam Xiaomi yang terasa berat untuk penggunaan sehari-hari.

Beralih ke sektor multi media ada kamera 5 MP dengan autofocus dan lampu flash di belakang dan 2 MP fixed focus di depan. Kualitasnya lumayan saja. Tidak terlalu bagus maupun jelek sangat. Untuk sekedar foto-foto untuk keperluan jejaring sosial sudah cukup bagus.

Namun ada satu kelemahan ponsel ini yang sangat fatal menurut saya yaitu baterainya. Berkapasitas 1900 mAh sepertinya kurang untuk ponsel berlayar 5.5″ meski dengan resolusi rendah. Untuk pemakaian standar jejaring sosial dan sedikit gaming baterai ponsel ini hanya bisa bertahan antara 6 hingga 8 jam. Kelemahan-kelemahan lain tak terasa semengganggu kelemahan dalam hal ketahanan baterai ini. Apa gunanya performa bagus bila sebentar-sebentar harus mencari colokan listrik?

LG L20 D105


Entah kenapa saya selalu terobsesi dengan ponsel yang berukuran mini, yang mudah dioperasikan dengan satu tangan tanpa harus memusatkan konsentrasi tinggi pada ponsel. Kali ini ponsel ‘mini’ pilihan saya adalah LG L20 dual sim yang bernomor kode D105. Alasan saya memilih ponsel ini hanya karena dimensinya yang imut. Namun keimutannya ini tentu berimbas pada beberapa hal. Yang paling terlihat adalah layarnya yang hanya 3″ dengan resolusi menyedihkan 240×320 pixel. Apapun yang tertampil di layar terlihat kasar, utamanya font yang sering susah dibaca bila tak berukuran besar sekali. Dari segi otak ponsel ini juga hanya dibekali prosesor dual core dan ram 512mb. Untuk sekedar menjalankan aplikasi-aplikasi jejaring sosial pun anda musti sedikit bersabar karena tiap membuka aplikasi tak jarang disertai jeda waktu yang cukup mengganggu. Di segi multimedia juga ponsel ini payah dengan kamera 2 mp fixed focus yang menghasilkan foto biasa saja. Music player juga keluaran suaranya jauh dari memuaskan. Ponsel ini memang sepertinya hanya cocok digunakan sebagai ponsel cadangan mengingat banyaknya keterbatasan seperti tersebut di atas. Satu-satunya kelebihan yang dimilikinya adalah bentuknya yang kecil praktis.

Xiaomi Redmi 1S


Ponsel satu ini kedatangannya ke Indonesia sempat membuat heboh. Memilih metode pemasaran dengan sistem Flash Sale alias penjualan dalam waktu terbatas di sebuah situs jualan online terkenal Redmi 1S ini membuat banyak orang termasuk saya penasaran bercampur kesal karena sulitnya untuk membeli ponsel ini. Hingga Flash Sale ke-5 yang digelar tiap hari Kamis barulah saya sukses mendapatkan sebuah Xiaomi Redmi 1S.
Setelah akhirnya memperoleh ponsel yang membuat heboh ini apa kesan-kesan saya?
Bentukan fisik luar sih cukup bagus. Dengan buatan yang cukup halus dan material yang berkesan cukup kokoh ponsel ini sama sekali tak berkesan murahan. Layarnya selebar 4.7″ cukup indah menampilkan warna-warni aneka foto.
Masuk ke menu kita disambut tampilan khas MIUI dengan warna-warna meriah. Menurut saya pribadi sih MIUI ini adalah salah satu daya tarik utama ponsel ini. Dengan menu dan tampilan yang menarik namun sederhana, aneka pengaturan yang mendetail membuat ponsel ini bukan sekedar sebuah perangkat android biasa. Namun tampilan yang indah ini tentu harus dibayar dengan tingginya penggunaan RAM dan prosesor ponsel ini. Saya sendiri beberapa kali mengalami ponsel Redmi 1S saya seperti berhenti mendadak dan tak dapat difungsikan selama beberapa saat. Mungkin memang spesifikasinya yang berotak quadcore, RAM 1 GB sepertinya kurang mencukupi untuk menunjang MIUI yang menuntut performa grafis prima.
Di aneka forum diskusi memang ada dibahas aneka cara untuk mengatasi masalah ini, antara lain dengan menginstal custom ROM yang lebih ringan. Tapi menurut saya orang membeli ponsel Xiaomi Redmi 1s untuk mendapatkan MIUI-nya, jadi tak ada guna membeli sebuah ponsel Xiaomi bila akan diflash dengan custom ROM.

Untuk multi media, semua bagi saya memuaskan. Kamera, music player, performanya cukup lah untuk penggunaan sehari-hari saya.

Kesimpulan saya setelah menggunakan Xiaomi Redmi 1S selama beberapa saat adalah ponsel ini sangat pantas untuk dimiliki dengan harga hanya satu setengah jutaan. Namun saya sendiri pada akhirnya jarang membawa ponsel ini untuk penggunaan sehari-hari. Ukuran 4.7″ nya masih terlalu besar untuk tangan saya, belum lagi bila harus digunakan di dalam kereta api commuter line jabotabek yang selalu penuh sesak itu. :D

Evercoss A7E


Alasan membeli ponsel ini? Desainnya simpel (walau agak terlalu mirip iPhone 5c), ukuran tak terlalu besar, spek lumayan dibanding harganya.
Spek lumayanlah dengan prosesor quadcore, RAM 512 MB (denger-denger sih dari sononya sudah support swap RAM, tapi saya belum pernah coba), OS yang digunakan sudah android 4.4.2 Kitkat. Bahkan sebulan setelah saya membelinya ada update firmware resmi dari pihak Evercoss yang menambahkan fitur Hotknot (semacam NFC ala pokal) dan Smart access (fitur gesture yang salah satu di antaranya adalah kemampuan membangkitkan nyala layar ponsel dengan dua ketukan seperti yang terdapat pada ponsel-ponsel LG). Fitur double tap to wake-nya bagi saya cukup membantu dan mengirit tombol power.
Tapi yang paling penting bagi saya adalah camera 8 MP autofocus + flash-nya. Hasil jepretan kameranya sangat lumayan untuk sebuah ponsel seharga delapan ratus ribuan.
Dari segi performa dalam pemakaian sehari-hari tak ada masalah fatal. Tak ada gejala kelemotan meski saya termasuk gila-gilaan dalam menginstal aneka aplikasi messaging dan sosial media. Sedang untuk bermain game saya kurang tahu karena saya memang tak begitu suka main game.
Kamera memuaskan. Musik dan multimedia lain memuaskan. Bongkar pasang aplikasi tak ada masalah.
Rooting cukup mudah. Bahan-bahan untuk oprek tersedia cukup banyak di grup facebook a7e.
Penggunaan dengan satu tangan pun nyaman karena ukuran layar hanya 4″, bentuknya cukup pas di tangan.
Untuk menyempurnakan tampilan agar makin mirip iPhone luar dalam tinggal menutup body dengan garskin berlogo apel kroak dan untuk daleman alias software-nya agar mirip iPhone tinggal menginstal iLauncher, iControl dan iNoty. Simple :)
Lalu apakah tak ada kelemahan pada ponsel ini? Banyak!
Di grup facebook a7e banyak yang mengeluhkan baterai a7e mereka ‘hamil’ atau ‘membengkak’ setelah pemakaian dalam waktu relatif singkat atau sekitar sebulanan saja. Lalu ada pula beberapa orang mengeluhkan lensa kamera mendadak ‘gopel’ atau ‘tercuil’ tanpa sebab jelas.
Saya sendiri setelah pemakaian sebulan belum ada gejala ‘penggembungan’ baterai. Namun yang jelas saya rasakan adalah kapasitas baterai yang menyedihkan untuk memenuhi kebutuhan daya ponsel. Memang dengan kapasitas sekedar 1650 mAh sepertinya kurang untuk sebuah ponsel berotak quad core. Dalam sehari saya minimal 2 kali mengisi ulang daya listrik a7e saya.